Boyolali (28/07/2023) Mata adalah organ sensorik yang penting pada manusia dan banyak hewan. Organ ini berfungsi sebagai alat penglihatan dan membantu kita memahami dunia di sekitar kita. Mata memiliki kemampuan untuk mendeteksi cahaya dan mentransmisikan sinyal-sinyal optik ke otak melalui sistem saraf penglihatan, sehingga kita dapat melihat objek, warna, dan bentuk yang berbeda. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) ditemukan sebanyak 19 juta anak yang berusia dibawah 15 tahun diperkirakan mengalami gangguan penglihatan dengan 23 juta diantaranya dikarenakan oleh kelainan refraksi mata, dimana suatu keadaan yang seharusnya mudah untuk di diagnosis dan di perbaiki.
Kelainan refraksi merupakan gangguan penglihatan karena bayangan yang dibiaskan oleh kornea dan lensa mata tidak difokuskan tepat di retina. Secara umum ada 3 kelainan refraksi antara lain mata minus, mata plus dan mata silinder. Kemungkinan tidak fokus tepat di retina oleh masalah pembiasan dikarenakan panjang aksial/diameter keseluruhan bola mata relatif lebih panjang atau lebih pendek. Ini umumnya berkaitan dengan biometri tubuh sehingga lebih bersifat bawaan. Kekuatan fokus kornea/lensa terlalu kuat atau terlalu lemah. Bentuk kornea yang relatif tidak berbentuk bola/sferis namun lebih berbentuk oval. Panjang aksial kekuatan fokus kornea dan bentuk kornea adalah hal-hal yang secara umum bersifat bawaan, sementara kekuatan fokus lensa adalah hal dimana kebiasaan juga berperan. Selain itu, tentu ada kondisi-kondisi penyakit yang mengakibatkan kondisi panjang aksial atau kekuatan fokus berubah.
Cara mendeteksi kelainan refraksi pada anak antara lain dengan cara pemeriksaan visus menggunakan optotipe Snellen. Salah satu mahasiswa dari KKN TIM II UNDIP 2022/2023 bernama Agnes Aprillia Tambunan melakukan pemeriksaan mata terhadap siswa kelas VI di SD Tegalsari. Pemeriksaan dilakukan dengan jarak 6 meter antara optotipe snellen dan siswa. Kemudian siswa diminta menutup mata secara bergantian kanan dan kiri serta menyebutkan huruf yang ditunjuk di optotipe Snellen. Siswa diminta menyebutkan huruf yang terlihat tanpa memaksa harus benar. Hasil pemeriksaan seluruh siswa dicatat dan dianalisis, kemudian dilaporkan kepada wali kelas untuk dilakukan tindak lanjut bagi siswa yang memiliki visus yang abnormal.
Setelah dilakukan pemeriksaan siswa juga diberikan sebuah leaflet yang berisi tentang cara menjaga kesehatan mata, cara membaca yang baik dan benar serta memeriksakan mata secara berkala yang dibuat sendiri oleh mahasiswa KKN TIM II UNDIP 2022/2023 bernama Agnes Aprillia Tambunan.

Poster Edukasi Menjaga Kesehatan Mata
Sumber : Penulis

Poster Edukasi Menjaga Kesehatan Mata
Sumber : Penulis
Mengobati kelainan refraksi mata pada anak dalam arti menyembuhkan/menghilangkan, sampai saat ini belum bisa dilakukan, karena manusia belum bisa merubah panjang aksial bola mata maupun merubah bentuk kornea pada anak secara terukur dan bertanggung jawab. Jadi saat ini tatalaksana kelainan refraksi mata adalah memberikan koreksi refraksi yaitu yang paling aman adalah kacamata. Tentu ada koreksi refraksi lain seperti pemberian lensa kontak, maupun operasi bedah refraktif. Jadi, terapi saat ini lebih ditujukan untuk mengkoreksi masalah refraksi dengan cara membiaskan bayangan agar tepat fokus di retina dan pemberian obat tetes khusus untuk memperlambat progresivitas.