You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa Tegalsari
Portal Resmi Desa Tegalsari
INFO
Mari Kita Manfaatkan Media Ini Sebaik Mungkin Pusat Informasi Pemerintah Desa Tegalsari Pendaftaran layanan mandiri diwajibkan menggunakan akun telegram untuk verivikasi akun. jika belum punya akun telegram silahkan menghubungi admin untuk memperoleh pin -- selengkapnya...

Jamasan Kuda Lumping: Ritual Tahunan 1 Suro untuk Kesenian Jaranan Ki Supo Sari Desa Tegalsari

MOHAMAD SETYOBUDI, S.Pd 28 Juli 2023 Dibaca 116 Kali
Jamasan Kuda Lumping: Ritual Tahunan 1 Suro untuk Kesenian Jaranan Ki Supo Sari Desa Tegalsari

 

Anjar Pratiwi / 13010120130064

Fakultas Ilmu Budaya – Sastra Indonesia 2020

Universitas Diponegoro, Semarang

Desa Tegalsari terus berupaya melestarikan kesenian jaranan-atau lebih dikenal reog-hingga era sekarang. Setiap awal bulan Muharam atau Suro, para pegiat seni beserta anggotanya melangsungkan ritual bernama jamasan. Berdasarkan sejarah, ulama penyebar agama Islam bernama samaran Imam Suwongso mempunyai kuda yang bisa terbang. Bersama sang ulama, kuda tersebut biasa minum di sendang. Adat demikian dititahkan kepada generasi selanjutnya supaya ikut merawat sendang sekaligus melangsungkan tradisi kuda yang ‘minum’ dan ‘mandi’. Tahun ini, 2023, ritual diselenggarakan pada Rabu, 19 Juli 2023 di Sendang Tegalsari Dukuh Waru, Pengkol, Karanggede, Boyolali. Pemberangkatan rombongan dari Balai Desa Tegalsari melewati sekaligus memutari Monumen K.R.T PRAWIRADIGDAYA—yang sedang bersiaga berperang sembari menaiki kuda hitam bernama Sembrani—sebanyak 3 kali.

Acara rutin tahunan ini dipimpin oleh pawang. Sebagaimana pakemnya, urutan pertama adalah penyucian diri sang pawang dengan membasuh muka, tangan, dan kaki menggunakan air sendang. Kemudian, bunga mawar disebar ke permukaan air yang nantinya menjadi tempat ‘minum’ kuda lumping. Proses ketiga ialah pawang duduk bersimpuh di depan sesajen lalu ‘berkomunikasi’ untuk mendapatkan jawaban tanda ritual dapat dimulai. Keempat, api dinyalakan dan dupa dibakar. Gambaran kondisi kala itu adalah ada dua pawang, yang satu tetap bersimpuh dan satu lainnya mengitari sendang.

Lantas, ritual penyucian kuda lumping dilaksanakan seusai memperoleh tanda. Kedua pawang bekerja sama menyelesaikan upacara dengan hikmat. Mekanisme jamasan ialah menyentuhkan mulut kuda lumping ke air sebagai simbol ‘minum’. Kemudian, membasahi tubuh kuda lumping sepenuhnya ke dalam air sebagai tanda ‘mandi’. Pawang menyertakan sekitar 14 kuda lumping dalam ritual. Diantaranya yakni Mego dan Mendung, Gagak dan Rimang, serta Gagak dan Seto. Setiap kuda diperlakukan sesuai tata urutan ritual ‘minum’ dan ‘mandi’ tersebut.

Di akhir jamasan, para pemain kesenian jaranan mengarak kuda lumping mengitari sendang bersama pecutnya. Iringan gamelan ikut memeriahkan dan menambahkan suasana sakral setiap langkah mereka berjalan memutar. Setelah selesai, pawang mempersilakan para pemain terlebih dahulu membasuh wajah, kaki, dan tangan menggunakan air sendang. Lalu, dilanjutkan warga sekitar atau penonton yang berkeinginan ikut menyucikan diri juga dipersilakan. Jamasan berakhir bersama dibawanya kuda lumping kembali untuk selanjutnya dimainkan atau ‘dijogetkan’.

 

LAMPIRAN

 

Keberangkatan dari Balai Desa Tegalsari

Sendang Tegalsari dan tapak kuda di sekitar lokasi

Ritual jamasan kuda lumping oleh pegiat seni jaranan Ki Supo Sari

 

Pawang, ketua kesenian, narasumber, dan warga sekitar yang ikut serta ritual jamasan

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image