Anjar Pratiwi
Fakultas Ilmu Budaya – Sastra Indonesia Undip
Boyolali (19/7) ⸺ Tim II KKN Undip melaksanakan program kerja monodisiplin berupa dokumentasi budaya di Desa Tegalsari. Para pegiat seni jaranan Ki Supo Sari menyatakan bahwa terdapat keinginan untuk terus melestarikan salah satu warisan turun temurun, yakni ritual jamasan kuda lumping. Berdasarkan hal itu, mahasiswa KKN pun berupaya ikut andil mempertahankan budaya di Desa Tegalsari tersebut sesuai bidang keilmuan budaya.
Di hari Rabu, 19 Juli 2023, rombongan bersama-sama datang melangsungkan ritual melewati monumen K.R.T Prawiradigdaya sebanyak 3 kali. Di sana, mahasiwa KKN hadir sekaligus melakukan proses pengambilan data. Mulai dari wawancara narasumber di sekitar Sendang Tegalsari, sampai pengamatan langsung proses jamasan dari awal hingga akhir.
Perolehan informasi dan data mengenai jamasan kuda lumping yakni pertama sang pawang melakukan penyucian diri: membasuh muka, tangan, dan kaki dengan air sendang. Kemudian, penyebaran bunga mawar di permukaan air sendang. Ketiga ialah tahap ‘komunikasi’ pawang dengan tujuan mendapatkan sinyal atau tanda acara bisa dimulai. Sesudah itu, api dinyalakan dan dupa dibakar. Terdapat pawang lain yang mengitari sendang seketika pawang lain bersimpuh di depan sesajen.
Lalu, ritual dilanjutkan atas persetujuan hasil ‘komunikasi’ dengan sang pawang. Setiap kuda lumping ‘dimandikan’ dan diberi ‘minum’. Ada sekitar 14 kuda lumping yang dibawa, antara lain Mego dan Mendung, Gagak dan Rimang, serta Gagak dan Seto. Mekanismenya ialah menyentuhkan mulut kuda ke air, kemudian membasuh keseluruhan kuda lumping ke dalam sendang. Begitu seterusnya sampai selesai dengan suasana hikmat.
Di akhir proses ‘mandi’ dan ‘minum’, kuda lumping beserta pecutnya diarak mengitari sendang oleh pemain jaranan Ki Supo Sari. Gamelan pun ikut mengiringi suasana sakral jamasan tersebut. Selepasnya, para pemain dipersilakan pawang untuk menyucikan diri dengan air sendang yang telah digunakan ritual. Kemudian, dilanjutkan warga sekitar dan penonton yang berkeinginan membersihkan kaki, tangan, atau sekadar cuci muka. Ritual jamasan berakhir dengan dibawanya kuda lumping kembali untuk berikutnya dijogetkan.***
Jamasan Kuda Lumping: Ritual Tahunan 1 Suro untuk Kesenian Jaranan Ki Supo Sari Desa Tegalsari
